Showing posts with label Obstetri. Show all posts
Showing posts with label Obstetri. Show all posts

6/19/2015

, , ,

Referat Persalinan Presentasi Bokong


Referat dalam blog ini disusun berdasarkan kasus nyata maupun fiktif. Referat disusun berdasarkan berbagai macam literatur. Apabila terdapat kesalahan dalam artikel referat, silahkan tinggalkan komentar.

Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis.
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Kondisi anatomi uterus dan keberadaan air ketuban tersebut memungkinkan terjadinya perbedaan posisi penempatan janin menjadi presentasi kepala, bokong atau letak lintang. 
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala. Kejadian letak sungsang pada kehamilan cukup bulan berkisar antara 2-3% bervariasi di berbagai tempat. Sekalipun kejadian kecil, tetap mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian sekitar 20-30% .
Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Manuaba,1998).
Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni:
• Presentasi bokong (frank breech) (50-70%). Pada presentasi bokong akibat ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya terdapat setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada pemeriksaan dalam hanya dapat diraba bokong.
• Presentasi bokong kaki sempurna ( complete breech ) ( 5-10%). Pada presentasi bokong kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kaki.
• Presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki ( incomplete or footling ) ( 10-30%). Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya terdapat satu kaki di samping bokong, sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas. Pada presentasi kaki bagian paling rendah adalah satu atau dua kaki.
B. Etiologi / Penyebab Letak Sungsang
Kondisi Maternal
a. Keadaan rahim
- Rahim arkuatus
- Septum pada rahim
- Uterus Dupletis
- Mioma bersama kehamilan
b. Keadaan plasenta
- Plasenta retak rendah
- Plasenta previa
c. Keadaan jalan lahir
- Kesempitan panggul
- Deforrmitas tulang panggul
- Terdapat tumor yang menghalangi jalan lahir dan perputaran keposisi kepala
Kondisi Fetal
Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang
- Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
- Hidrosefalus atau Anensefalus
- Kehamilan kembar
- oligohidramnion
- Prematuritas

C. Diagnosa
Anamnesa
Kehamilan terasa penuh dibagian atas dan gerakan terasa lebih banyak dibagian bawah. Pergerakan anak teraba oleh si ibu di bagian perut bawah, di bawah pusat, dan ibu sering merasa benda keras (kepala) mendesak tulang iga.

Pemeriksaan abdominal
Dari inspeksi tampak pembesaran abdomen memanjang. Pada palpasi teraba bagian keras, bundar, dan melenting pada fundus uteri. Punggung anak dapat diraba pada salah satu sisi perut dan bagian – bagian kecil pada pihak yang berlawanan. Di atas symphisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
Denyut jantung janin 
Denyut jantung janin terdengar paling keras pada atau di atas umbilicus dan pada sisi yang sama pada punggung. Pada RSA (Right Sacrum Antorior) denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadrat kanan atas perut ibu kadang-kadang denyut jantung janin terdengar di bawah umbilicus
Pemeriksaan vaginal
Bagian terendah teraba tinggi. Tidak teraba kepala yang keras, rata dan teratur dengan garis-garis sutura dan fontanella. Hasil pemeriksaan negatif ini menunjukkan adanya mal presentasi. Bagian terendahnya teraba lunak dan ireguler. Bokong dapat dikelirukan dengan muka. Kadang-kadang pada presentasi bokong murni sacrum tertarik ke bawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa.
Pemeriksaan Sinar X
Sinar X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin, demikian pula kelainan-kelainan seperti hydrocephalus.

Perawatan antenatal pada presentasi bokong.
Pada Primigravida:
- Pada usia kehamilan 30-32 minggu, dapat dianjurkan untuk melakukan knee chest position selama
- 10 menit, sebanyak 3 kali sehari
- Pasien diminta datang kembali 2 minggu kemudian
- Pada usia kehamilan 34-36 minggu, bisa dicoba untuk melakukan versi luar, dengan syarat: 
1) ketuban belum pecah 
2) janin belum masuk pintu atas panggul
3) tersedia fasilitas kamar operasi darurat jika terjadi gawat janin dan seksio sesarea harus segera dilakukan.
Pada Multigravida:
- Pada usia kehamilan 32-34 minggu, dapat dianjurkan untuk melakukan knee chest position selama 10 menit, sebanyak 3 kali sehari
- Pasien diminta datang kembali 2 minggu kemudian
- Pada usia kehamilan 36-38 minggu, bisa dicoba untuk melakukan versi luar, dengan syarat: 
1) ketuban belum pecah 
2) janin belum masuk pintu atas panggul
3) tersedia fasilitas kamar operasi darurat jika terjadi gawat janin dan seksio sesarea harus segera dilakukan.


Simak file lengkapnya di Referat Persalinan Presentasi Bokong.doc !

6/01/2015

, , , , ,

Standar Operasional Prosedur (SOP) Sectio Cesarea

Standar Operasional Prosedur merupakan suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerjapada unit kerja yang bersangkutan.

Pengertian             Sectio Cesarea / Cesarean Section (Bedah Cesar) adalah tindakan mengiris dinding perut dan rahim untuk mengeluarkan janin pada ibu hamil dengan umur kehamilan lebih dari 28 minggu.

Tujuan  
a. melahirkan janin secepatnya.
b. mencegah komplikasi yang mengancam keselamatan ibu dan janin
Kebijakan             Standar Pelayanan Medis RSUD

Prosedur
    I. INDIKASI
1. panggul sempit absolute
2. disproporsi kepala panggul
3. plesenta previa / plasenta letak rendah di belakang
4. inkoordinasi uteri
5. pre eklampsia berat / eklampsia
6. ada riwayat seksio sesarea
7. induksi / stimulasi gagal
8. tumor jalan lahir yang mengganggu penurunan janin
9. fetal distress
10.          presentasi bokong dengan tali pusat ditunggangi
11.          presentasi muka dagu di belakang
12.          janin tumbuh lambat (kurang dari 70%)
13.          rupture uteri iminens
14.          atas permintaan pasien

II. KONTRA INDIKASI
     tidak ada

Prosedur
III. PERSIAPAN ALAT
1. Persiapan Personalia
Satu orang Dokter Obsgin sebagai operator dan dua orang selaku Asisten I dan Asisten II, satu orang selaku Instrumen.
2. Persiapan Pasien
a. Stop makan/minum minimal 6 jam sebelum operasi (kecuali emergensi).
b. Pasang IVFD.
c. Pasang dauwer kateter
d. Bersihkan dinding perut daerah operasi
3. Persiapan Operasi
a. Konsultasi Anestesi.
b. Pemeriksaan Laboratorium (minimal: Hb, AL, AT, CT, BT, HbsAg, Golongan darah).
c. Persediaan darah.
d. Persiapan alat operasi (oleh petugas IBS).
e. Informed consent dari Suami atau Keluarga.

IV. CARA KERJA
a. Pasien ditidurkan diatas meja operasi dengan sebelumnya diberikan premedikasi di Ruang Persiapan oleh bagian anestesi.
b. Dilakukan anestesi oleh Dokter Anestesi.
c. Dilakukan toilet pada daerah operasi dengan Alkohol 70%, kemudian dengan Betadine.
d. Pasien ditutup dengan duk steril kecuali daerah operasi.
e. Dilakukan irisan pada daerah perut 1 cm diatas SOP ke arah pusat sepanjang 10 cm atau irisan melintang (pfanen style), kemudian irisan diperdalam lapis demi lapis (subkutis, fasia, otot, peritoneum parietale).
f. Setelah peritoneum dibuka, pasang tampon usus, dilakukan pembukaan pada plika vesikouterina, kemudian kandung kencing disisihkan sejauh mungkin ke kaudal.
g. Dilakukan irisan pada segmen bawah rahim kemudian dilebarkan secara tumpul.
h. Tangan kiri operator memegang kepala janin (presentasi kepala), mencari kaki janin, kemudian melakukan ekstraksi (pada presentasi bokong dan letak lintang), setelah janin lahir dilakukan pemotongan tali pusat (diantara dua klem), muka bayi diusap untuk membersihkan lender, kemudian janin diserahkan kepada perawat / dokter perinatologi untuk Resusitasi.
i.  Plasenta secara manual, kemudian disuntikkan 10 unit Oksitosin intra mural.
j.  Sudut perdarahan kanan dan kiri diklem, kemudian diikat dengan benang kromik.
k. Segmen bawah rahim dijahit dua lapis secara satu-satu atau kros, kemudian plika vesikouterina dijahit secara jelujur.
l.  Tampon usus diangkat, kavum abdominal dibersihkan, control perdarahan.

Prosedur
 V. PERAWATAN PASCA OPERASI
1. Awasi tanda vital setiap 5 menit sampai stabil.
2. Stop makan / minum sampai flatus/peristaltic positif.
3. IVFD dengan mengontrol balance cairan sampai stabil.
4. Bila ada infeksi, dilakukan perawatan peritonitis. Pada pre eklampsia berat dan eklampsia dirawat di ICU sampai hemodinamika stabil.
5. Medikamentosa : antibiotic / roboransia / analgetik.
6. Hari ke 2 dilakukan mobilisasi.
7. Hari ke 3 penutup luka operasi dibuka dan diganti, perhatikan tanda infeksi. Jika tidak ada tanda infeksi, pasien boleh pulang.


Unit terkait            Ruang Bersalin, Ruang Nifas/Rawat Gabung, ICU, IBS, Ruang Bayi

, ,

Definisi Kesehatan Reproduksi

1. Definisi Kesehatan Reproduksi 
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, social dan lingkungan serta bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta prosesnya (WHO, 1992 ).  
Kesehatan reproduksi mempunyai implikasi bahwa setiap orang baik laki-laki maupun perempuan mampu memenuhi keinginan sexualnya, secara aman bagi diri dan keluarganya. Karena itu akses terhadap pelayanan reproduksi turut menentukan status kesehatan reproduksi seseorang.
2. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan
Dalam program Kes-repro pendekatan siklus hidup yang berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penanganan system reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut.
  Dalam siklus kehidupan ada 4 komponen yang diprioritaskan :
a. Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir
b. Keluarga Berencana
c. Kesehatan reproduksi remaja
d. Pencegahan dan penanganan PMS termasuk HIV / AIDS
3. Hak-hak Reproduksi
Dapat diartikan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan  mempunyai hak sama untuk memutuskan secara bebas dab bertanggung jawab, mengenai jumlah anak, jarak antar anak, serta dalam menentukan waktu kelahiran anak dan dimana akan melahirkan.
Hak Reproduksi dapat dijabarkan secara praktis :
a. Setiap orang berhak mencapai standar tertinggi kesehatan reproduksi
b. Perempuan dan laki-laki  sebagai pasangan atau individu berhak memperoleh informasi lengkap tentang sexualitas dan masalah Kes-repro.
c. Hak untuk memperoleh pelayanan KB.
d. Perempuan berhak memperoleh  kesehatan yang dibutuhkannya.
e. Hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan masing-masing.
f. Para remaja, baik laki-laki maupun perempuan berhak memperoleh informasi yang tepat dan benar tentang reproduksi remaja.
g. Laki-laki dan perempuan berhak mendapat informasi yang mudah dimengerti dan lengkap tentang PMS, HIV/ AIDS

2/06/2011

Penyebab Kemandulan: Pembahasan Infertilitas


DEFINISI ( WHO )


INFERTILITAS PRIMER
PASANGAN DENGAN SANGGAMA TERATUR TANPA PROTEKSI
SELAMA > 12 BULAN TIDAK MENGALAMI KONSEPSI


INFERTILITAS SEKUNDER
PASANGAN SEBELUMNYA PERNAH MENGALAMI KONSEPSI ,
KEMUDIAN TIDAK MAMPU KONSEPSI LAGI WALAUPUN
SENGGAMA TERATUR TANPA PROTEKSI > 12 BULAN.


INFERTILITAS IDIOPATIK
PASANGAN YANG TIDAK DIDAPATKAN KELAINAN FISIK
MAUPUN LABORATORIK, DENGAN SANGGAMA TERATUR TANPA
PENCEGAHAN SELAMA > 24 BULAN BELUM HAMIL


KEHAMILAN SIA-SIA
ISTRI MAMPU KONSEPSI , TETAPI TIDAK MAMPU HAMIL
MENCAPAI CUKUP BULAN , ATAU MENDAPATKAN BAYI HIDUP.

SYARAT FERTIL

SUAMI
Testis minimal satu  menghasilkan
sperma normal
Saluran epididimis dan vas deferens
patent
Mampu ereksi – penetrasi
Ejakulasi adekuat  sperma masuk
vagina sempurna

ISTRI
Sistem neuroendokrin hipotalamus –
hipofisis – ovarium –mampu
menghasilkan ovum / oosit
Tuba Fallopii minimal satu
berfungsi baik ( patent )
Vagina normal dan mampu menerima
spermatozoa
Uterus dan sistem hormonal mampu
menerima dan membesarkan embrio


PENGELOLAAN INFERTILITASMerupakan pengelolaan pasangan

PEMERIKSAAN SUAMI
1. Anamnesis
- lama nikah
- cara hubungan / senggama
- pengobatan / usaha infertilitas sebelumnya
- penyakit sitemik yang kronis / Parotitis
- riwayat pengobatan khusus / lama
- pernah trauma / dilakukan pembedahan
- infeksi : STD , Non STD
- risiko lingkungan / pekerjaan
- kebiasaan rokok, alkohol , narkoba

2. Pemeriksaan fisik
- keadaan umum, tanda vital , TB dan BB
- fisik umum
- tanda kelamin sekunder, ginekomastia
- penis : bentuk, ukuran, hipospadia, sikatriks
- testis : tempat, ukuran, epididimis, vas deferens, varikokel
- palpasi prostat


3. Analisis semen

- metoda : WHO Laboratory Manual for The
Examination of Human and Semen – Cervical
Mucus Interaction .
- minimal 2 pemeriksaan : jarak minimal 2 minggu


Nomenklatur ( Eliasson et.al )

1. Normosprnia : ejakulat sesuai standar normal
2. Oligozoospermia : konsentrasi < standar
3. Asthenozoospermia  motilitas < standar
4. Teratozoospermia  morfologi normal < standar
5. Oligoasthenoteratozoospermia  kombinasi
6. Azoospermia  tidak ada sperma dalam ejakulat
7. Aspermia  tidak ada ejakulat

Bagaimana diagnosa dan tatalaksananya? Simak .ppt selengkapnya disini!


1/29/2011

, , ,

Infeksi Rubella Pada Kehamilan


CONGENITAL RUBELLA
Rubella adalah virus teratogenik
Sindrom rubella kongenital (CRS) terjadi selama wabah rubela AS Tahun 1964
Janin yang beresiko CRS hanya selama infeksi primer
Kemungkinan infeksi janin terjadi selama 4 minggu pertama setelah pembuahan 61%, 5-8 w: 26%; 9-12 b: 8%, setelah 12 w: CONGENITAL RUBELLA SYNDROME
Kelainan yang paling umum yang terkait dengan infeksi 1 trim adalah: gangguan pendengaran di 60% -755%, cacat mata:% 50-90%; penyakit jantung: 40-85%; retardasi psikomotor: 25-40% Kelainan lainnya adalah: IUGR, hepatosplenomegali
Jarang: thrombocytopeni, meningoencephalities

EPIDEMIOLOGY
Juga disebut Jerman campak, disebabkan oleh virus rubella
Minor infeksi pada tidak adanya kehamilan
Transmisi dari kontak langsung dengan sekresi nasofaring dari orang yang terinfeksi
Masa yang paling menular adalah beberapa hari sebelum timbulnya ruam maculopapuler
Masa inkubasi berkisar 14-21 hari


MATERNAL INFECTION
Bergejala pada 50% -70%
Ringan, ruam makulopapular selama 3 hari
Demam, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, dan sakit tenggorokan
Generalized limfadenopati (khususnya postauricular, oksipital)
Transient arthritis


FETAL INFECTION
Setidaknya 50% janin terinfeksi saat infeksi ibu primer terjadi pada trimester pertama, ketika risiko terbesar muncul anomali kongenital
Beberapa organ sistem keterlibatan
Cacat bawaan: katarak, microphthalmia, glaukoma, PDA, stenosis arteri paru, atrioventrikular cacat, septum tuli, mikrosefali, ensefalopati, retardition mental dan impairement motor
Continue
Sepertiga dari bayi tanpa gejala pada saat lahir dapat berkembang manifestasi akhir, termasuk diabetes melitus, gangguan tiroid, dan dewasa sebelum waktunya pubertas
Kematian 4-9% aborsi spontan, lahir mati 2-3% Keseluruhan kematian bayi dengan sindrom rubella bawaan adalah 5-35%


Simak penjelasan Infeksi Rubella.ppt lengkapnya disini !