Showing posts with label Kesehatan Anak. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Anak. Show all posts

11/02/2016

, , , , , ,

Berapa kebutuhan garam pada bayi dan anak-anak?

Q: Mr. Doc, betul tidak kita harus membatasi asupan garam pada bayi dan anak-anak? Lalu berapa sih sebenarnya kebutuhan garam pada si kecil? 

A: Hallo Bunda! Yup, betul sekali Bun, asupan garam harus dibatasi pada si kecil. Bayi dan anak hanya membutuhkan garam dalam jumlah yang sangat kecil. Sedangkan pada makanan sehari-hari; roti, snack, biskuit dll terkandung garam dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga terdapat kemungkinan konsumsi garam yang berlebih pada anak. Rekomendasi maksimum konsumsi garam pada bayi dan anak adalah: 
 0-12 bulan – kurang dari 1g garam per hari (kurang dari 0.4g natrium)
• 1 - 3 tahun – 2g garam per hari (0.8g natrium)
• 4 to 6 tahun – 3g garam per hari (1.2g natrium)
• 7 to 10 tahun – 5g garam per hari (2g natrium)
• 11 tahun lebih – 6g garam per hari (2.4g natrium)
Bayi yang mendapat ASI sudah mendapat cukup garam dari ASI. Ketika memulai memberikan makanan pendamping ASI, jangan tambahkan garam pada makanan si kecil, karena kemampuan ginjal mereka belum berfungsi maksimal. Hindari juga memberikan makanan siap saji untuk anak; seperti cereal, karena kandungan garamnya yang tinggi. Biasakan mengecek nutritional fact pada kemasan makanan ya Bunda, sebelum memutuskan untuk membeli dan memberikannya kepada si kecil. Be wise happy parent!
, , , , ,

Apa tanda-tanda si kecil siap untuk diberikan MP-ASI?

Q: Hallo Mr. Doc, usia anak saya sudah hampir 6 bulan. Tapi saya ragu-ragu apakah si kecil siap untuk memulai makanan pendamping ASI. Selain dari usianya, apa tanda-tanda si kecil siap untuk diberikan MP-ASI ya Mr. Doc

A: Hallo Bunda! Berikut tanda-tanda bahwa si kecil sudah siap untuk mulai mengkonsumsi makanan pendamping ASI:
1. Si kecil bisa duduk sendiri dan mempertahankan posisi kepala tanpa dibantu/bersandar.
2. Si kecil sudah mampu mengkoordinasikan mata, tangan dan mulut, sehingga mereka bisa memandang ke arah makanan, mengambilnya dan mencoba memasukkan ke mulutnya, secara mandiri tanpa dibantu 
3. Mereka bisa menelan makan. Bayi yang belum siap akan mengeluarkan seluruh makanan dari mulutnya, sehingga lebih banyak makanan tercecer di wajah, dibandingkan dengan yg masuk kemulutnya.

Semoga bermanfaat happy parent! :)
, , , , , ,

Kapan mulai memberi makanan pendamping ASI?

Q: Hallo Mr. Doc, kapan kita boleh mulai memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada si kecil?

A: Hallo Bunda! Bunda bisa mulai memberi si kecil makanan pendamping ASI (MPASI), ketika menginjak usia sekitar 6 bulan. Para pakar dan praktisi kesehatan setuju usia 6 bulan adalah usia ideal. Sebelum usia 6 bulan, sistem pencernaan si kecil belum siap untuk mencerna makanan padat. Pada bayi prematur, kesiapan memulai makanan pendamping ASI berbeda-beda. Bunda kami sarankan berkonsultasi langsung pada dokter spesialis anak untuk menentukan kapan dapat memulai makanan pendamping ASI. Happy parenting, bunda! :)

10/30/2016

, ,

Penilaian Status Gizi Anak

Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut : 
a.      Umur.
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah  adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang  mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur  adalah  dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).
b.      Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan  yang menurun. Berat badan ini  dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan  berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).
c.       Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran  fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan  kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan  sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan  keadaan   berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga  indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi  Badan)  jarang dilakukan karena perubahan tinggi  badan yang lambat dan biasanya  hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).
Berat badan dan tinggi badan   adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan  keadaan gizi kurang bila  dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi  kurus/wasting -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius  dan berhubungan langsung dengan  angka kesakitan.

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative baik (well-nourished), sebaiknya digunakan “presentil”, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).

Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB  Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)
No
Indeks yang digunakan
Interpretasi
BB/U
TB/U
BB/TB





1
Rendah
Rendah
Normal
Normal, dulu kurang gizi

Rendah
Tinggi
Rendah
Sekarang kurang ++

Rendah
Normal
Rendah
Sekarang kurang +
2
Normal
Normal
Normal
Normal

Normal
Tinggi
Rendah
Sekarang kurang

Normal
Rendah
Tinggi
Sekarang lebih, dulu kurang
3
Tinggi
Tinggi
Normal
Tinggi, normal

Tinggi
Rendah
Tinggi
Obese

Tinggi
Normal
Tinggi
Sekarang lebih, belum obese
Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :
Rendah   : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS 
Normal   : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi    :  > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber : Depkes RI 2004.

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan  mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan,  hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan menggunakan rumus :



                                                  Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

 
 



Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000  oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan  gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2.  

Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut
Diketahui BB= 60 kg  TB=145 cm    
Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan WHO-NCHS  hanya dibatasi  < 18 tahun  maka disini  dicontohkan anak laki-laki usia 15 tahun
           
Table weight (kg)  by  age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Age
Standard Deviations
Yr
mth
-3sd
-2sd
-1sd
Median
+1sd
+2sd
+3sd
15
0
31.6
39.9
48.3
56.7
69.2
81.6
94.1
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Table weight (kg)  by  stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS
Stature
Standard Deviations
cm
-3sd
-2sd
-1sd
Median
+1sd
+2sd
+3sd
145
0
24.8
28.8
32.8
36.9
43.0
49.2
55.4
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Table stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Stature
Standard Deviations
Yr  mth
-3sd
-2sd
-1sd
Median
+1sd
+2sd
+3sd
15
0
144.8
152.9
160.9
169.0
177.1
185.1
193.2
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Jadi untuk indeks BB/U adalah
            = Z Score = ( 60 kg – 56,7 ) / 8.3 =  + 0,4 SD
= status gizi baik
Untuk IndeksTB/U adalah
            = Z Score = ( 145 kg – 169 ) / 8.1 =  - 3.0 SD
= status gizi  pendek
Untuk Indeks BB/TB adalah
= Z Score = ( 60 – 36.9 ) / 4 =  + 5.8 SD
= status gizi gemuk 

10/27/2016

, , , , ,

Kemandirian dan Rawat Diri Penyandang Autis

Kemandirian merupakan suatu keadaan yang menyatakan seseorang tidak tergantung pada orang lain.
Penyandang autis perlu dikembangkan/dilatih kemandiriannya.
Kemandirian Penyandang Autis
Kemandirian pada individu Autis tidak dapat dicapai secara optimal apabila tidak didukung oleh
üLingkungan yang kondusif
üLayanan pendidikan yang memadai
üKerja sama antara terapis, orang tua, guru dan    masyarakat.
Penyandang Autis dapat dikatakan mandiri jika pada akhir pelayanan pendidikan yang diberikan dapat :
ØMemelihara kesehatan jasmani  dan rohani.
ØMemiliki pengetahuan /keterampilan
Tujuan Merawat Diri
Bagi penyandang Autis, tujuan latihan merawat diri adalah :
üAgar dapat melakukan sendiri keperluannya sehari-hari
üMenumbuhkan rasa percaya diri dan meminimalkan bantuan yang diberikan kebiasaan tertib dan teratur
üDapat menjaga kebersihan dan kesehatan badannya
üDapat beradaptasi dengan lingkungannya pada kondisi atau situasi di mana dia berada
üDapat menjaga diri dan menghindar dari hal-hal yang membahayakan.

Prinsip-prinsip Latihan Merawat Diri
Mengenal dan menerima keberadaan penyandang Autis
Memperhatikan kesiapan penyandang Autis
Belajar dalam keadaan rileks dengan instruksi yang tegas
Terapis, guru atau pelatih menggunakan kata-kata instruksi yang tetap dan sama begitu pula orang tua dan anggota keluarga yang lain
Setiap melakukan kegiatan iringilah dengan percakapan dan gunakan kata-kata yang sederhana
Latihan diberikan dengan singkat dan sederhana, tahap demi tahap
Tahapan dimulai dari hal termudah

Prinsip-prinsip Latihan Merawat Diri
Tetapkanlah disiplin, jangan menyimpang dari ketetapan utama, waktu maupun tempat
Teruslah memberi motivasi
Kesalahan dan kecelakaan adalah hal biasa, mungkin saja penyandang jatuh karena memasukkan kedua kakinya bersama-sama dalam lobang celana
Fleksibilitas.

Ruang Lingkup Materi Kemampuan Merawat Diri
Kebersihan badan
Makan dan minum
Berpakaian
Berhias
Keselamatan diri
Adaptasi lingkungan

Tahapan dalam kegiatan pengembangan kemandirian penyandang autis dimulai dari:
Asesment.
Penyusunan Program
Pelaksanaan Program
Evaluasi Program